Kamis, 06 Desember 2018

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENGOLAHAN AMPLANG IKAN


I.      PERSYARATAN BAHAN BAKU UTAMA:
1.     Bahan baku utama yang digunakan adalah ikan.
2.    Bahan baku berupa ikan segar atau beku yang sudah atau belum disiangi.
3.    Bahan baku berasal dari perairan yang tidak tercemar.
4.  Bahan baku bersih, bebas dari setiap bau yang menandakan pembusukan, bebas dari  tanda dekomposisi dan pemalsuan, bebas dari sifat-sifat alamiah lain yang dapat menurunkan mutu serta tidak membahayakan kesehatan.
5.    Secara organoleptik bahan baku mempunyai karakteristik kesegaran sebagai berikut:
a. Kenampakan      : mata cerah, cemerlang
b. Bau                       : segar
c. Tekstur                : elastis, padat dan kompak

II.    PERSYARATAN SANITASI:
1.  Air sebagai media pembersih harus bersih. Adapun yang dimaksud dengan air bersih adalah air yang bebas dari mikroba patogen dan sumber pencemar lainnya.
2. Peralatan yang kontak langsung dengan bahan atau produk perikanan harus mudah dibersihkan, tahan karat (korosi), tidak merusak, dan tidak bereaksi dengan produk perikanan.
3.   Peralatan pengolahan produk harus selalu dalam keadaan bersih, bebas dari kerikil atau bahan lain yang dapat digunakan oleh serangga dan hama untuk tinggal.
4.  Untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang, penempatan sarana dan prasarana di ruangan penanganan atau pengolahan harus dapat memisahkan alur antara bahan yang belum bersih dengan alur bahan yang sudah bersih.
5.    Sebelum melakukan penanganan atau pengolahan produk perikanan, kedua tangan harus dicuci terlebih dahulu dengan menggunakan sabun.
6.  Produk perikanan yang jatuh ke lantai jangan diambil dan disatukan dengan produk perikanan lainnya meskipun jatuhnya ’belum lima menit’.
7.  Pemisahan antara bahan baku dengan produk akhir yang dihasilkan dapat dilakukan dengan mengatur alur proses sedemikian rupa sehingga tidak terjadi kontak langsung diantara keduanya maupun kontak tidak langsung melalui pekerja.
8.  Bahan pengemas yang sudah rusak harus dikeluarkan dari ruang penyimpanan karena akan berpengaruh terhadap bahan pengemas lainnya.
9.  Produk yang disimpan pertama kali harus dikeluarkan lebih awal dibandingkan produk yang disimpan kemudian.
10. Limbah produk perikanan dikumpulkan dalam wadah khusus yang memiliki tutup.

III.  BAHAN (UNTUK PRODUKSI 1 KG):
1.     1 kg Ikan tenggiri/gabus
2.     2 kg sagu
3.     Bawang putih secukupnya
4.     80 gram garam
5.     750 ml air
6.     20 gr bumbu penyedap
7.     Minyak goreng secukupnya

IV.  LANGKAH-LANGKAH PENGOLAHAN:
1.    Cuci bersih ikan, keluarkan isi perut dan kotoran ikan.
2.   Giling ikan segar sampai halus, kemudian campurkan dengan air, garam, serta bumbu  penyedap, aduk hingga rata.
3.    Setelah adonan merata, tambahkan tepung sagu kemudian diuleni.
4.    Ambil adonan dan timbang sekitar 1 kg, kemudian bentuk tabung dan memanjang.
5.    Rebus adonan yang telah kita bentuk sekitar 1 jam, setelah itu dijemur agar hasilnya bagus.
6.    Setelah dijemur, kemudian diiris-iris sesuai ukuran yang ditentukan, kemudian goreng sambil diaduk-aduk hingga matang, lalu tiriskan.
7.   Masukkan dalam plastik atau toples kedap udara.

Sumber: http://komunitaspenyuluhperikanan.blogspot.co.id/2014/01/standar-operasional-prosedur-pengolahan_22.html

BUDIDAYA UDANG GALAH BERSAMA PADI




Sumber :DUB-DJPB, 2014. Leaflet Budidaya Udang Galah bersama Padi (UGADI) di download dari website Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya pada lamanhttp://www.djpb.kkp.go.id/download/Ugadi.pdf

Senin, 03 Desember 2018

PENANGANAN HAMA DAN PENYAKIT PADA IKAN BAWAL


Hama dan Penyakit Pada Ikan Bawal 

Ikan bawal berasal dari Amerika Selatan. Ikan bawal merupakan salah satu jenis ikan air tawar tersebar dari golongan ikan neotropik.  Pertumbuhan ikan bawal relatif lebih cepat dibandingkan dengan beberapa jenis ikan air tawar lain. 
Budidaya ikan bawal tidak sulit.  Ikan ini dapat dibudidayakan di kolam tertutup atau tergenang dan kolam air deras dan dipelihara dalam jala (jaring) apung yang dibangun di pinggir waduk atau danau dan perairan umum. 
Pemijahan ikan bawal di kolam hanya dapat dilakukan dengan cara hypofisasi atau rangsangan hormon (induce spawing) menggunakan ekstraks kelenjar hypopisa, ovaprim.  Selanjutnya, induk yang telah dirangsang dipijahan secara alami ataupun dilakukan striping atau ovulasi buatan.
Kendala utama budidaya ikan bawal adalah serangan hama dan parasit.  Berdasarkan pengamatan di kolam pemeliharaan ikan bawal menunjukkan bahwa sebagian terbesar kasus-kasus serangan parasit terjadi pada saat awal pemeliharaan atau fase perkembangan benih ikan.  Parasit yang seringkali menyerang benih ukuran sedang adalah Ichthyopthirius, Trikodina.


A. Serangan Hama :

a. Notonecta
Nototecta di Jawa Barat  disebut bebeasan (beas = beras), karena bentuknya yang seperti beras. Hama ini memiliki 5 pasang kaki, 3 pasang kaki dibagian belakang digunakan untuk berenang, 2 pasang dibagian depan digunakan sebagai alat penyengat. Hama ini biasanya menyerang benih terutama yang berukuran kecil.

Binatang ini memiliki kemampuan untuk terbang ketika akan berpindah tempat. Oleh karena binatang ini dapat terbang, maka sampai saat ini pencegahan notonecta masih sulit dilakukan. Cara terbaik yang dilakukan yaitu mengurangi kandungan bahan organik di kolam dan membuang tanaman air jika ada.

b. Ucrit / Uceng
Larva Cybister, atau masyarakat lebih sering menyebutnya Ucrit / uceng.Ucrit memiliki badan seperti ulat, badannya kaku, tetapi dapat bergerak dengan cepat, tubuhnya agak berwarna kehijauan. Binatang ini memiliki alat penyengat dibagian ekornya. Cara penyerangannya dengan menjepit perut mangsa hingga robek.
Keberadaan ucrit dapat dicegah dengan mengurangi kandungan bahan organik di dalam kolam dan melakukan persiapan kolam yang baik. Adapun cara pemberantasannya dengan menggunakan insektisida dengan nama dagang yang disebut deciss dengan dosis 2 mg/liter.
c. Belut
Banyak ditemukan di persawahan, juga di pematang kolam. Binatang ini termasuk karnivora, makanan yang paling disukai adalah cacing. Binatang ini sering memangsa ikan terutama yang berukuran kecil. Binatang ini perlu diberantas dengan mengeringkan tanah kolam , kemudian lubang-lubangnya ditutup.
Selain hama diatas, ada beberapa hama lain yang meyerang ikan bawal diantaranya:

1)      Kini-kini / larva capung
2)      Kumbang air
3)      Kepiting
4)      Ikan dari jenis predator (lele, ikan gabus)
5)      Burung
6)      Argulus sp.
7)      Lernea
8)      Ular sawah

B. Serangan Penyakit
Tabel 1. Penyakit yang sering Menyerang di Lokasi Pembenihan
PENYAKIT
GEJALA
PENGOBATAN KIMIAWI
PENGOBATAN TRADISIONAL
1. Parasit

Penyakit Bintik Putih / White Spot disebabkan oleh protozoaIchthyphItirius multifiliis



Malas berenang, sering mengapung di permukaan air, terlihat bintik putih di bagian sirip, tutup insang, permukaan tubuh, dan ekor.


Direndam  formalin 400 ppm dan malachyt green 0,1 ppm selama 1 jam
direndan dalam air mengalir pelan



Direndam dengan daun miana 7-10 lembar yang direbus dengan 3 gelas air selama 3 x sehari.

2. Parasit

Disebabkan oleh parasitTrichodina spp


Benih lemah dan kurus, kelihatan gatal dan sering menggosok pada benda lain



Direndam  formalin dengan dosis 200 ppm selama 30 menit
Direndam  malachyt green dengan dosis 0,1 ppm selama 24 jam



Direndam dengan daun miana 7-10 lembar yang direbus dengan 3 gelas air selama 3 x sehari.



Tabel 2. Penyakit yang sering Menyerang di Lokasi Pembesaran
PENYAKIT
GEJALA
PENGOBATAN KIMIAWI
PENGOBATAN TRADISIONAL
1.Parasit
Disebabkan oleh cacing Dactylogyrussp dan parasit Gyrodactylus sp


Kulit kusam , sirip rontok,  ikan mengosokan tubuh pada benda padat (substrat), operkulum merenggang

Direndam  formalin dengan dosis 200 ppm selama 30 menit
Direndam 
  Direndan dalam air mengalir pelan


Direndam dengan daun miana 10-15 lembar yang direbus dengan 5 gelas air selama 3 x sehari.

2. Parasit

Disebabkan oleh parasitTrichodina spp


Benih lemah dan kurus, kelihatan gatal dan sering menggosok pada benda lain



Direndam  formalin dengan dosis 200 ppm selama 30 menit
Direndam  malachyt green dengan dosis 0,1 ppm selama 24 jam



Direndam dengan daun miana 10-15 lembar yang direbus dengan 5 gelas air selama 3 x sehari.






Sumber :

  • http://www.kolamania.com/2017/05/hama-penyakit-yang-sering-menyerang-ikan-bawal.html
  • http://komunitaspenyuluhperikanan.blogspot.com/search?q=budidaya+bawal

Senin, 19 November 2018

PEMANFAATAN LIMBAH BUDIDAYA IKAN LELE


A. Limbah Air Kolam Lele

Limbah air kolam lele, terutama budidaya lele sistem bioflok dapat dimanfaatkan untuk budidaya pakan alami dan pupuk tanaman.

1. Untuk Budidaya Pakan Alami

Intensifikasi budidaya ikan lele membawa implikasi penggunaan pakan buatan kaya protein yang semakin banyak untuk mendukung pertumbuhan ikan yang semakin besar. Limbah yang dihasilkan oleh sistem budidaya tersebut juga akan semakin tinggi. Proses konversi senyawaan nitrogen yang berlangsung lebih cepat adalah proses heterotrofik, bakteri heterotroph dapat mengubah senyawaan amoniak menjadi biomassa bakteri sebagai sumber protein dengan penambahan karbon organik.pemanfaatan limbah lele dengan sistem intensif melalui teknologi bioflok dapat dilakuakan dengan budidaya cacing sutra. Cacing sutra merupakan salah satu jenis pakan alami ikan budidaya yang potensial untuk dikembangkan karena memiliki kandungan nutrien yang cukup tinggi (52-57 % protein). Saat ini pemenuhan kebutuhan cacing sutra hanya mengandalkan dari hasil tangkapan alam, dimana hasil tangkapan ini belum mencukupi kebutuhan dari permintaan. Hasil tangkapan alam tidak memiliki jaminan kualitas, karena cacing sutra dapat menjadi pembawa agen penyakit yang dapat menyebabkan kematian pada benih ikan. 

2. Untuk Pupuk Tanaman

Limbah air bekas air kolam ikan lele bisa dimanfaatkan sebagai pupuk atau penyubur tanaman. Mengapa limbah air bekas kolam ikan bisa bermanfaat untuk semua jenis tanaman. Khusnya untuk tanaman sayur di dalam limbah air kolam ikan lele mengandung Nitrogen, Pospor yang paling banyak. Unsur-unsur hara ini dibutuhkan oleh tanaman. Limbah air kolam lele itu menjadi pupuk atau nutrisi yang baik bagi tanaman.


B. Limbah Pengolahan Lele

Limbah pengolahan ikan lele seperti kepala, tulang dan jeroan  dalam jumlah besar yang tidak dikelola dengan baik akan berdampak terhadap lingkungan seperti menimbulkan bau yang tidak sedap. Untuk meminimalisir terjadinya polusi, limbah tersebut dapat diolah kembali menjadi bahan pakan alternative, diolah menjadi bahan probiotik dan bahkan tulang dan kepala lele dapat dijadikan produk makanan.

1. Sebagai Pakan Alternative

Limbah olahan ikan lele berupa isi perut dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak seperti itik atau dapat jadikan pakan kembali untuk ikan lele.

2. Sebagai bahan probiotik

Limbah lele berupa kepala dan jeroan dapat dijadikan bahan baku pembuatan probiotik, karena pada limbah tersebut terdapat bakteri Lactobacillus. Probiotik yang sudah diolah dapat dijadikan campuran pakan ikan.

3. Produk Makanan

Olahan lele yang ada biasanya masih meninggalkan limbah berupa kepala dan tulang ikan lele. Ketika dibuang atau dibiarkan begitu saja, maka limbah ikan juga dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, misalnya menimbulkan bau yang tidak sedap. Selain itu dengan langsung membuang bagian-bagian ikan tersebut, maka telah terjadi pembuangan sejumlah nutrisi penting dari limbah. Misalnya tulang ikan yang dapat menjadi sumber beberapa mineral, terutama kalsium. Selain itu, biasanya pada kepala dan tulang ikan masih terdapat sisa-sisa daging yang menempel, yang jika dikumpulkan dalam jumlah banyak, dapat digunakan sebagai bahan baku untuk membuat berbagai produk makanan olahan. Meskipun produk makanan olahan dan produk perikanan lainnya juga dapat dibuat dengan bahan baku target utama ikan, tetapi dengan memanfaatkan limbah hasil pengolahan perikanan berarti turut membantu mengurangi limbah dan meningkatkan pemanfaatan ikan yang memiliki nutrisi yang tinggi. Agar kepala, dan tulang ikan lele tidak menjadi limbah yang dapat mencemari lingkungan maka perlu dilakukan upaya pengolahan limbah tersebut menjadi produk yang bernilai ekonomis di antaranya adalah dengan membuat brownies, nugget, dan kerupuk. 

Sumber :
  • http://sumsel.tribunnews.com/2018/04/27/limbah-air-bekas-kolam-ikan-lele-bisa-dimanfaatkan-sebagai-pupuk-tanaman?page=2
  • http://djpb.kkp.go.id/index.php/mobile/arsip/c/579/Pemanfaatan-Limbah-Olahan-Lele/?category_id=18

Jumat, 16 November 2018

MEMBUAT PAKAN ORGANIK



PENDAHULUAN

Berbicara mengenai cara membuat pakan ikan sendiri, biasanya orang sering membuat pakan ikan fermentasi karena dengan cara fermentasi merupakan salah satu pakan alternatif ikan yang sangat praktis dan mampu memberikan manfaat yang bagus untuk hewan ternak maupun ikan.

Pakan fermentasi merupakan sebuah pakan ternak ikan yang terbuat dari limbah organik seperti ampas tahu , kotoran ternak , yang difermentasikan terlebih dahulu sebelum diberikan kepada ternak ikan.

Manfaat pakan fermentasi untuk ikan :

Hemat dalam pembiayaan dalam perawatanAir kolam cenderung tidak berbau busukMempercepat pertumbuhan dan perkembangan ikanTidak perlu mengganti air kolamLele organik memiliki rasa yang berbeda yakni lebih gurihBobot ikan menjadi lebih berat dan bernilai jual tinggiNilai gizi dari lebih tinggi dan kolesterolnya lebih rendahAir bekas budidaya ikan organik sangat baik untuk memupuk tanaman dan masih banyak lagi.

Saat ini banyak pembudidaya ikan mencoba memanfaatkan kotoran ternak (sapi, kambing, ayam atau puyuh) untuk dijadikan pelet. Namun, kotoran ternak sebagai pakan organik dalam prakteknya bukan berarti langsung diberikan pada ikan.

Kotoran tersebut akan diproses menjadi semacam pupuk organik yang akan merangsang tumbuhnya pakan alami yang berguna sebagai pakan sekaligus media berkembangnya mikroorganisme kompleks pada kolam.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dan diketahui untuk memanfaatkan kotoran ternak ini :

Kotoran ternak yang digunakan diusahakan sudah padat dan tidak berbauKotoran ternak yang digunakan berasal dari ternak yang diberi pakan hasil fermentasi. Maksud dari pakan hasil fermentasi adalah pakan jerami yang telah dikeringkan selama satu minggu atau dari kotoran kambing yang memakan pakan yang sudah difermentasi juga.

"Bakteri yang ada pada kotoran ternak sudah tidak berbahaya, karena sudah melalui proses fermentasi".

Kotoran ternak yang kelihatannya menjijikan ternyata bisa dimanfaatkan untuk budidaya ikan. Selain kotoran ternak, ada beberapa bahan lain yang diperlukan untuk membuat Pakan Ikan Organik. Berikut ini beberapa jenis bahan baku yang bisa digunakan untuk membuat Pakan Ikan Organik :

Kotoran Ternak

      Kotoran hewan yang dapat digunakan untuk pupuk setelah mengalami pengomposan yang matang, yaitu bila secara fisik (warna, rupa, tekstur, dan kadar air) tidak serupa dengan kondisi bahan aslinya, sedangkan secara kimia memiliki kandungan 60-70% bahan organik, 2% zat N, 1% P2O5, dan 1% K2O.

Jenis kotoran hewan yang dapat digunakan adalah kotoran sapi, kerbau, kelinci, ayam, puyuh dan kambing. Jenis kotoran lain yang dapat digunakan untuk pembuatan Pakan Ikan Organik adalah kotoran ayam. Kotoran ayam mengandung protein, karbohidrat, lemak dan senyawa organik lainnya.

"Kriteria kotoran ayam yang ideal adalah yang berasal dari ayam pedaging karena kotorannya lebih bersih dan cenderung lebih murni (tidak tercampur sekam) dan usahakan kotoran ayam dalam kondisi kering. Hindari menggunakan kotoran ayam kampung karena kotorannya cenderung rendah kadar N dan mengandung serat yang tinggi".

Semakin tinggi kandungan unsur hara nitrogen akan membuat bahan baku semakin cepat terurai. Ini dikarenakan jasad renik pengurai memerlukan unsur hara nitrogen untuk perkembangannya. Unsur hara nitrogen digunakan oleh mikroorganisme untuk sintesis protein dan pembentukan protoplasma.


Ampas Tahu

Ampas tahu dapat digunakan sebagai sumber protein, mengingat kandungan proteinnya dan lemak yang tinggi sekitar 8,66% protein, 3,79% lemak, 51,63% air dan 1,21% abu. maka sangat baik untuk dijadikan bahan baku pembuatan Pakan Lele Organik.

"Kelemahan ampas tahu cenderung memiliki kandungan protein yang lebih baik dari pada kotoran hewan, apabila proses fermentasi terlambat, maka hasilnya akan menjadi cepat bau sehingga dapat mengganggu lingkungan sekitar. Ampas tahu merupakan bahan yang tidak tahan lama. Karena itu, ketika mendapatkan ampas tahu segera lakukan pencampuran dengan probiotik, untuk dosis probiotik tergantung dari merk dan jenis probiotik yang digunakan".

Dedak / Katul

Dedak merupakan limbah pengolahan gabah dan tidak dikonsumsi manusia sehingga tidak bersaing dalam penggunaannya. Kandungan nutrisi dedak yaitu bahan kering 91,0%, protein kasar 13,5%, lemak kasar 0,6%, serat kasar 13,0%, dan kandungan serat kasar 13,6%.
Tepung Ikan

Tepung ikan adalah ikan atau bagian ikan yang dikeringkan dan digiling. Kegunaan utama tepung ikan adalah bahan utama campuran pakan ternak. Tepung ikan yang baik harus mempunyai sifat-sifat : butirannya seragam; bebas dari sisa tulang, mata ikan dan benda asing; berwarna halus bersih, seragam, dan bau khas ikan amis.
Probiotik (Pupuk Hayati Bioboost)

Probiotik adalah istilah yang digunakan pada mikro-organisme hidup yang dapat memberikan efek baik atau kesehatan pada organisme lainnya. Kami sarankan untuk menggunakan Pupuk Hayati Bioboost
Tetes Tebu / Molase

Molase merupakan bahan sisa dari proses pembuatan gula. Molase juga merupakan sumber energi tetapi kandungan proteinnya rendah. Molase mengandung 4,2% protein kasar, 7,7% serat kasar. Molase juga sering digunakan untuk proses fermentasi karena mengandung 1-20% gula yang dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan inokulum. Bisa digantikan dengan gula pasir.

Sumber:
http://mynewblogbioboost.blogspot.com/2017/09/membuat-pakan-ikan-organik-fermentasi.html
Achmad Madonk Tamrin, http://balebetenajuku.blogspot.com/2017/11/pakan-ikan-organik.html

Kamis, 15 November 2018

7 Jenis Pengolahan Hasil Perikanan

Pengolahan Perikanan

Pengolahan ikan adаlаh upaya уаng dilakukan terhadap sumberdaya ikan mеlаluі proses pengolahan secara tradisional maupun modern, baik secara fisika, kimia, mikrobiologis atau kombinasinya, dengan Tujuan untuk dijadikan produk akhir уаng dараt berupa ikan segar, ikan beku dan bentuk olahan lainnya, gunа mengawetkan dan memperbaiki penampakan/penampilan (appearance) sifat-sifat fisika, kimia dan nilai gizi serta nilai tambahnya (value added) untuk memenuhi konsumsi manusia. Pengolahan ikan dapat dilakukan dengan cara pengalengan, pembekuan, penggaraman, pengasapan, pelumatan daging, pemindangan, dll


1. Pengalengan:

Pengalengan merupakan ѕuаtu proses pengolahan ikan dеngаn mеlаluі proses ѕеbаgаі bеrіkut : Dеngаn atau tаnра pemotongan kepala, pencucian, pre-cooking, pengisian ikan kе dalam kaleng, pengisian media kе dalam kaleng, penutupan kaleng, sterilisasi/ pasteurisasi, pendinginan, masa pemeraman, pengepakan dan pengemasan.

Contoh:  Udang dalam kaleng, tuna dalam kaleng, sardin dalam kaleng, dll
2. Pembekuan:

Proses penanganan dan pengolahan Ikan yang dilakukan dеngаn cara: pencucian, preparasi, pembekuan hіnggа mencapai suhu -25º Celcius ѕаmраі dеngаn suhu pusat -18º Celcius, dengan/tanpa penggelasan, pengepakan dan pengemasan, serta penyimpanan beku.
Contoh: Udang beku, tuna beku,  dll

3. Penggaraman/Pengeringan: 

Adаlаh kegiatan уаng bertujuan untuk mengurangi kadar air dalam daging ѕаmраі batas tertentu dimana perkembangan mikroorganisme dan enzim terhenti sehingga ikan dараt disimpan cukup lama dalam keadaan layak dimakan.

Contoh: Ikan asin kering, ikan asin 1/2 kering 
4. Pemindangan:


Cara pengawetan ikan menggunakan suhu tinggi mеlаluі perebusan, ber-tujuan mendapatkan citarasa tertentu dan mengurangi kandungan mikroba/spora уаng dараt mempengaruhi mutu dan daya simpan produk. Cara pengolahannya, pemindangan terdiri аtаѕ pemindangan air garam dan pemindangan garam.

Contoh: Pindang bandeng, pindang cuwe, dll

5. Pengasapan:

Proses pengawetan ikan dеngаn menggunakan media asap atau panas dеngаn tujuan untuk membunuh bakteri dan memberi citarasa уаng khas.
Contoh: Ikan asap, lele asap, patin asap, dll
6. Peragian/Fermentasi:

Proses pengawetan ikan mеlаluі perombakan secara enzymatis, proteolitik, bakteriologis dalam derajat keasaman tertentu sehingga menghasilkan produk dеngаn cita rasa khas. Tahap pengolahan produk berfermentasi:

• Perebusan I, pengepresan/pemerasan, penyaringan,

• Perebusan II, penambahan gula dan garam.

Contoh: Terasi, kecap ikan, petis, silase ikan


Pereduksian/Pengektrasian:
Proses pemisahan  cairan dеngаn padatan mеlаluі tahapan pengepresan dan pemusingan.

Contoh: Tepung ikan, chitin, citosan, agar-agar, karaginan, minyak ikan, dll
7. Pelumatan Daging:

Pencampuran daging ikan dеngаn garam sehingga menghasilkan pasta уаng lengket kеmudіаn ditambahkan bahan-bahan lainnya untuk menambah cita rasa untuk selanjutnya dibentuk dan dimasak.

Contoh:     

- baso ikan, sosis ikan, surimi, nugget

- produk olahan berbahan baku rumput laut

Selasa, 13 November 2018

Bubu Sebagai Alat Tangkap Ramah Lingkungan


A. Pengertian

Bubu merupakan alat tangkap ikan yang termasuk kedalam kelompok “Trap” atau ”Perangkap”. Berdasarkan kelompoknya bubu adalah alat tangkap yang bekerja secara pasif yaitu hanya ditempatkan pada suatu perairan, setelah dipasang/ditempatkan pada suatu perairan kita harus menunggu beberapa waktu sehingga ikan yang akan ditangkap masuk dan terperangkap di dalam bubu.


Gambar mungkin berisi: luar ruangan
Bubu di perairan rawa

B. Konstruksi dan Bahan

           Bahan dasar untuk membuat bubu belakangan ini bermacam – macam mulai dari bubu berbahan dasar rotan, kawat, besi, jaring, kayu, dan pelastik. Bahan dasar tersebut dianyam dan dirangkai sedemikian rupa sehingga memiliki bentuk tabung (mirip bola rugby), balok, ataupun bentuk yang lainnya dengan satu lubang, dua lubang, atau lebih, yang berfungsi sebagai tempat masuknya ikan, dan lubang pintu yang digunakan untuk mengambil ikan yang ada di dalamnya. Prinsip kerja dari bubu adalah dengan cara menjebak pengelihatan ikan sehingga ikan akan tertangkap di dalamnya. Selain dikenal dengan nama bubu alat ini juga biasa dipanggil dengan nama “Fishing Pots” atau “Fishing Basket” 

konstruksi bubu ikan

C.  Teknik Operasi (Sitting dan Hunting)
Berdasarkan teknik pengoprasiannya bubu terbagi menjadi tiga jenis, yaitu :
  1. Bubu Dasar (Ground Fish Pots)
    Alat tangkap ini dalam operasional penangkapannya bisa tunggal (umumnya bubu berukuran besar), bisa ganda (umumnya bubu berukuran kecil atau sedang) yang dalam pengoperasiannya dirangkai dengan tali panjang yang pada jarak tertentu diikatkan bubu tersebut. Bubu dipasang di daerah perairan karang atau diantara karang – karang atau bebatuan. Bubu dilengkapi dengan pelampung yang dihubungkan dengan tali panjang. Setelah bubu diletakkan di daerah operasi, bubu ditinggalkan, untuk kemudian diambil 2 – 3 hari setelah dipasang, kadang hingga beberapa hari.

  2. Bubu Apung (Floating Fish Pots)
    Bubu apung dilengkapi pelampung dari bambu atau rakit bambu, dilabuh melalui tali panjang dan dihubungkan dengan jangkar. Panjang tali disesuaikan dengan kedalaman air, umumnya 1,5 kali dari kedalaman air.

  3. Bubu Hanyut (Drifting Fish Pots)
    Pada waktu penangkapan, bubu hanyut diatur dalam kelompok-kelompok yang kemudian dirangkaikan dengan kelompok-kelompok berikutnya sehingga jumlahnya menjadi banyak, antara 20 – 30 buah, tergantung besar kecil perahu/kapal yang akan digunakan dalam penangkapan.
D. Cara Pengoprasian Penangkapan

Adapun cara pengoprasian bubu sebagai berikut :
  1. Pada sekeliling bubu diikatkan rumput laut.

  2. Bubu disusun dalam 3 kelompok yang saling berhubungan melalui tali penonda (drifting line).

  3. Penyusunan kelompok (contohnya ada 20 buah bubu) : 10 buah diikatkan pada ujung tali penonda terakhir, kelompok berikutnya terdiri dari 8 buah dan selanjutnya 4 buah lalu disambung dengan tali penonda yang langsung diikat dengan perahu penangkap dan diulur kira – kira antara 60 – 150 m.

  4. Waktu pengoprasian bubu adalah 3 hari 2 malam. Menurut para nelayan bubu, operasi penangkapan ikan dengan menggunakan bubu idealnya dilakukan selama 3 hari 2 malam atau maksimal 4 hari 3 malam. Apabila terlalu lama dioprasikan (lebih dari 4 hari), maka kelungkinan ikan yang tertangkap akan mengalami kematian atau luka – luka.
salah satu cara pemasangan bubu




E. Daerah Penangkapan

Daerah penangkapan yang dapat dilakukan berdasarkan jenis bubu, sebagai berikut :
  1. Bubu Dasar (Ground Fish Pots). Dalam operasi penangkapan, bubu dasar biasanya dilakukan di perairan karang atau diantara karang-karang atau bebatuan.

  2. Bubu Apung (Floating Fish Pots). Dalam operasi penangkapan, bubu apung dihubungkan dengan tali yang disesuaikan dengan kedalaman tali, yang biasanya dipasang pada kedalaman 1,5 kali dari kedalaman air.

  3. Bubu Hanyut (Drifting Fish Pots). Dalam operasi penangkapan, bubu hanyut ini sesuai dengan namanya yaitu dengan menghanyutkan ke dalam air.

F. Hasil Tangkap Bubu

Hasil tangkapan dari bubu tergantung dimana mengoperasikannya:
  1. Hasil tangkapan dengan bubu yang dioperasikan dilaut umumnya terdiri dari jenis-jenis ikan, udang kualitas baik, seperti Kwe (Caranx spp), Baronang (Siganus spp), Kerapu (Epinephelus spp), Kakap ( Lutjanus spp), kakatua (Scarus spp), Ekor kuning (Caeslo spp), Ikan Kaji (Diagramma spp), Lencam (Lethrinus spp), udang penaeld, udang barong, kepiting, rajungan, dll.

  2. Bubu yang dioperasikan disungai umumnya terdiri dari udang galah, ikan baung, dan ikan sungai lainya

  3. Bubu yang dioperasikan di rawa umumnya memperoleh ikan rawa seperti ikan gabus, lele, betok, sepat dan belut.

Sumber :

  • https://damnloveit.blogspot.com/2016/02/alat-tangkap-bubu.html
  • http://dayaksarang.blogspot.com/2015/05/macam-macam-peralatan-menangkap-ikan.html