Jumat, 10 Mei 2019

KEGUNAAN EM-4 PERIKANAN PADA USAHA PEMBESARAN LELE




EM-4 PERIKANAN merupakan kultur mikroorgamisme yang menguntungkan, bermanfaat untuk meningkatkan kualitas air tambak dan meningkatkan produksi udang dan yang dapat di aplikasikan pada budidaya ikan lele, beberapa kali proses budidaya menggunakan kolam terpal saya selalu menggunakan EM-4 ini yaitu kurang lebih 2 minggu sebelum benih lele ditebar dengan dosis 1 tutup botol/m2, dan ditebarkan rutin setiap 2 minggu sekali sebanyak 1 tutup botol per 2 m2, penggunaan EM-4 terbukit mampu menjaga daya tahan tubuh lele, meningkatkan nafsu makan , menjaga kolam agar tidak berbau, memfermentasikan sisa pakan, kotoran yang terdapat di dasar kolam, juga menguraikan gas amoniak, methan dan hydrogen sulfide yang dapat mengganggu ikan. EM 4 juga mampu meningkatkan oksigen terlarut (DO) sehingga air menjadi bersih dan tidak diperlukan penggantian berulang-ulang karena kualitas air tetap terjaga serta aman bagi lingkungan.
 
Untuk mendongkrak produksi ikan lele, syaratnya air harus bagus dan terhindar dari pencemaran. Sementara mengatasi pencemaran air sendiri kuncinya hanya dengan teknologi EM 4. Kemerosotan kualitas air yang disebabkan limbah merupakan masalah utama yang sering dihadapi para peternak. Limbah-limbah tersebut akan menimbulakan gas-gas beracun yang menyebabkan terjangkitnya penyakit ikan karena mengalami setress. Limbah tersebut juga mengakibatkan produksi akan merosot dan menimbulkan kematian.

Sekilas tentang Teknologi EM 4

Produk EM-4 Perikanan dan Tambak merupakan kultur EM dalam medium cair berwarna coklat kekuning-kuningan yang menguntungkan, berrguna untuk meningkatkan bakteri pengurai bahan organic, menekan pertumbuhan bakteri pathogen, menstimulasi enzim pencernaan dan meningkatkan kualitas air pada tambak.

Teknologi EM 4 Perikanan dan Tambak Kemasan 1 Liter

  • Manfaat EM-4 Perikanan dan Tambak
  • Meningkatkan pertahanan tubuh ikan/udang SR
  • Meningkatkan pertumbuhan dan size ikan/udang GR
  • Meningkatkan imunostimulan / daya tahan ikan/udang
  •  Meningkatkan daya tahan tubuh ikan/udang sehingga mengurangi pengunaan Antibiotik.
  • Efisiensi energi dan pengelolaan kualitas air
  • Memfermentasi sisa pakan, kotoran, cangkang udang di dasar tambak
  • Meningkatkan oksigen terlarut (DO) dan air menjadi bersih sehingga tidak diperlukan penggantian air berulang-ulang.
  • Menguraikan gas-gas amoniak, metan dan hydrogen sulfide.
  • Mempertahankan kualitas linkungan
  • Aman dan Ramah lingkungan.


Cara Membuat EM-4 Sendiri

Berikut ini cara pembuatan EM yang sudah banyak dilakukan masyarakat, dengan menggunakan bahan-bahan yang mudah di dapat.


1. Bahan dan alat

  • Susu sapi murni dua liter
  • Isi perut (lambung) kambing atau sapi secukupnya.
  • Gula pasir 1 kg/tetes tebu
  • Bekatul 1 kg
  •  Nanas 1 buah
  • Terasi ½ kg
  • Air bersih 10 liter
  • Panci
  • Parutan atau blender
  • Kompor


2. Cara Membuat

  • Haluskan buah nanas dengan menggunakan blender/parutan. Campurkan dengan gula pasir, bekatul, terasi dan air bersih di dalam panci. Masak sampai mendidih, lalu dinginkan.
  • Tambahkan susu sapi murni dan isi lambung kambing atau sapi, aduk hingga tercampur rata.
  • Tutup panci rapat-rapat hingga 12 jam atau satu hari.
  • Membuat EM4 dengan bahan Tumbuhan
  • Mungkin sUdah ada yg tahu bahwa membuat EM4 dengan bahan usus hewan menimbulkan bau busuk yang kurang sedap, oleh karena itu, disini dituliskan cara membuat mikroba komposter EM4 dengan bahan2 tumbuhan yang tidak terlalu berbau busuk.

  • Bahan-bahan
  • Sampah sayur, terutama kacang-kacangan
  • Kulit buah-buahan (papaya, pisang, rambutan, mangga, dsb.)
  • Bekatul, secukupnya
  • Gula merah, sedikit saja
  • Air beras, secukupnya


Cara membuat:

  • Sampah sayur, kulit buah-buahan dan bekatul dicampurkan. Tempatkan misalnya di dalam sebuah ember atau penampung yang lain. Tutup. Sambil kadang-kadang diaduk, biarkan selama satu minggu sampai membusuk sehingga menjadi EM1. EM singkatan dari Effective Microorganism, yaitu jasad renik "ganas" yang akan mempercepat proses pengomposan. Ditengarai dengan angka 1 karena inilah cairan mikroorganisme yang terbentuk setelah mengalami dekomposisi selama satu minggu.
  • Cairan EM1 dicampur dengan sampah sayur dan kulit buah-buahan. Kemudian didiamkan lagi selama satu minggu. Cairan baru yang terbentuk disebut dengan EM2.
  • Cairan EM2 dicampurkan dengan bekatul, gula merah dan air beras. Dan didiamkan lagi selama satu minggu sehingga menjadi EM3.
  • Diamkan lagi selama satu minggu tanpa menambahkan apa-apa. Cairan itu telah menjadi EM4.



Membuat EM4 dengan Mudah

Sebagai starter mikroorganisme pada proses dekomposer EM4 menjadi begitu penting dalam dunia pertanian organik. Jika kita harus membeli EM4 tersebut harganya lumayan mahal, padahal ada berbagai cara untuk membuat EM4 sendiri dengan harga bahan baku yang sangat murah. Salah satu caranya adalah sebagai berikut:
BAHAN:
1.    Pepaya matang atau kulitnya 0,5 kg
2.    Pisang matang atau kulitnya 0,5 kg
3.    Nanas matang atau kulitnya 0,5 kg
4.    Kacang panjang segar 0,25 kg
5.    Kangkung air segar 0,25 kg
6.    Batang pisang muda bagian dalam 1,5 kg
7.    Gula pasir 1 kg
8.    Air tuak dari nira 0,5 liter

CARA PEMBUATAN:

  •  Pepaya, pisang, nanas, kacang panjang, kangkung dan batang pisang muda dihancurkan hingga ukuran menjadi agak halus. Buah harus yang sudah matang atau dapat juga digunakan kulit buah yang tidak dimakan.
  • Setelah dihancurkan, campuran bahan tersebut dimasukkan dalam ember.
  • Campurkan gula pasir dan tuak dalam ember tadi dan aduk hingga rata.
  • Wadah ditutup rapat dan disimpan selama 7 hari
  • Setelah 7 hari larutan yang dihasilkan dikumpulkan secara bertahap setiap hari hingga habis.
  • Larutan tersebut disaring dan dimasukkan kedalam wadah yang tertutup rapat. Larutan tersebut adalah EM4 yang siap digunakan dan dapat bertahan hingga 6 bulan
  • Ampas dari hasil penyaringan larutan bisa digunakan sebagai pupuk kompos.



CARA MEMPERBANYAK EM 4

Untuk menghemat penggunaan EM 4 terutama bagi pembudidaya ikan lele skala besar, beberapa pembudidaya ikan lele memilih untuk memperbanyak penggunaan EM 4 mereka, sehingga dengan usaha memperbanyak ini dapat ditemukan perbandingan dimana 1 liter EM 4 dapat menghasilkan sekitar 70 liter EM 4 fermentasi. Adapun cara memperbanyak EM 4 ini adalah:

Resep 1

Alat dan Bahan  :
  • Em 4 = 1 liter
  • Air gula merah = ½ kg + 1 liter air
  • Sari buah nenas (4 buah) + 38 liter
  • Jerigen isi 40 liter


Campur semua dalam wadah jeregen, lalu tutup rapat selama seminggu, dan siap pakai.

Resep 2
Alat dan Bahan  :

1.       3 liter cairan EM 4 ( 3 botol @ 1 liter)
2.       Drum plastic 200 liter
3.       500 gr gula merah / putih
4.       180 liter air
5.       0,5 kg terasi yang sudah dicairkan dengan air secukupnya 

Resep 3
Alat dan Bahan
1.       Tetes tebu 3 liter
2.       Em-4 2 liter
3.       Air 95 liter
4.       Kantung plastic / drum (ada tutup)
5.       Tali

Cara Pembuatan :
1.       Dicampur air, tetes tebu dan em-4
2.       Diikat atau ditutup
3.       Dibiarkan selama kurang lebih 2 minggu.

Sumber :

Rabu, 08 Mei 2019

MENGENAL ALAT TANGKAP BUBU


A.         Pendahuluan
Bubu adalah alat tangkap ikan tradisiional yang umum dikenal dikalangan nelayan, yang berupa jebakan/perangkap , dan bersifat pasif. Bubu sering juga disebut perangkap “ traps “ dan penghadang “guiding barriers”. Alat ini berbentuk kurungan seperti ruangan tertutup sehingga ikan tidak dapat keluar. Bubu merupakan alat tangkap pasif, tradisional yang berupa perangkap ikan tersebut dari bahan, rotan, kawat, besi, jaring, kayu dan plastik yang dijalin sedemikian rupa sehingga ikan yang masuk tidak dapat keluar. Prinsip dasar dari bubu adalah menjebak penglihatan ikan sehingga ikan tersebut terperangkap di dalamnya, alat ini sering diberi nama ftshing pots atau fishing basket.(Brandt, 1984). Untuk menjebak ikan masuk ke dalam bubu terkadang di dalam bubu ditaruh umpan untuk menarik ikan masuk.
Bubu Bentuk Torpedo

Bubu adalah perangkap yang mempunyai satu atau dua pintu masuk dan dapat diangkat ke beberapa daerah penangkapan dengan mudah, dengan atau tanpa perahu (Rumajar, 2002). Menurut Martasuganda, (2005)Teknologi penangkapan menggunakan bubu banyak dilakukan di negara­negara yang menengah maupun maju. Untuk skala kecil dan menengah banyak dilakukan di perairan pantai, hampir seluruh negara yang masih belum maju perikanannya, sedangkan untuk negara dengan sistem perikanan yang maju pengoperasiannya dilakukan dilepas pantai yang ditujukan untuk menangkap ikan-ikan dasar, kepiting, udang yang kedalamannya 20 m sampai dengan 700 m. Bubu skala kecil ditujukan untuk menagkap kepiting, udang, keong, dan ikan dasar di perairan yang tidak begitu dalam.

Bubu yang umum digunakan nelayan

Subani dan Barus (1989), menyatakan bahwa Bentuk dari bubu bermacam-macam yaitu bubu berbentuk lipat, sangkar (cages), silinder (cylindrical), gendang, segitiga memanjakan (kubus), atau segi banyak, bulat setengah lingkaran dan lain-lainnya. Secara garis besar bubu terdiri dari badan (body), mulut (funnel) atau ijeb dan pintu. Badan bubu berupa rongga, tempat dimana ikan-ikan terkurung. Mulut bubu (funnel) berbentuk corong, merupakan pintu dimana ikan dapat masuk tapi tidak dapat keluar dan pintu bubu merupakan bagaian tempat pengambilan hasil tangkapan.

Bentuk bubu
Di Perairan sungai bubu seperti diatas umumnya digunakan nelayan untuk menangkap udang galah, ikan gabus, lele dan beberapa jenis ikan rawa lainnya. Sebenarnya, berdasarkan dari bentuk bubu dapat dibedakan menjadi bubu bentuk silender, kotak, segi tiga dan lainnya namun dari semua itu fungsi bubu tetap sama yakni sebagai alat tangkap pasif sebagai perangkap (traps).



B.         Daerah Pengoprasian Bubu
Di perairan umum  bubu dapat di operasikan di danau, waduk, rawa dan sungai.
  1. Didanau dan waduk pengoperasian bubu diletakkan didasar perairan untuk menangkap ikan dan jenis udang.
  2. Di rawa pengoperasian bubu diletakan dengan ujung sedikit naik dipermukaan. Jenis tankapan berupa ikan gabus, betok, lele dan ikan sepat.
  3. Di Sungai, sistem pengoperasiannya kurang lebih sama dengan di danau. Bubu diletakan didasar sungai, bubu di kasih upat berupa jeroan atau kelapa bakar. Target tangkapan utama disungai biasanya adalah udang galah.
  4. Dperairan pantai, alat tangkap bubu diperairan pantai atau laut berupa bubu keong macan.bubu keong macan terbuat dari bambu berbentuk persegi. dioperasikan hingga kedalaman 20 m. hasil tangkapan berupa keong macan
Brandt (1984), mengklasifikasi bubu menjadi beberapa jenis, yaitu :

1.        Berdasarkan sifatnya sebagai tempat bersembunyi / berlindung :
a. Perangkap menyerupai sisir (brush trap)
b. Perangkap bentuk pipa (eel tubes)
c. Perangkap cumi-cumi berbentuk pots (octoaupuspots)


2.        Berdasarkan sifatnya sebagai penghalang
a. Perangkap yang terdapat dinding / bendungan
b. Perangkap dengan pagar-pagar (fences)
c. Perangkap dengan jeruji (grating)
d. Ruangan yang dapat terlihat ketika ikan masuk (watched chambers)


3.        Berdasarkan sifatnya sebagai penutup mekanis bila tersentuh
a. Perangkap kotak (box trap)
b. Perangkap dengan lengkungan batang (bend rod trap)
c. Perangkap bertegangan (torsion trap)


4.        Berdasarkan dari bahan pembuatnya
a. Perangkap dari bahan alam (genuine tubular traps)
b. Perangkap dari alam (smooth tubular)
c. Perangkap kerangka berduri (throrrea line trap)


5.        Berdasarkan ukuran, tiga dimensi dan dilengkapi dengan penghalang
a. Perangkap bentuk jambangan bunga (pots)
b. Perangkap bentuk kerucut (conice)
c. Perangkap berangka besi


Brandt (1984), mengklasifikasi bubu menjadi beberapa jenis, yaitu :

1.        Berdasarkan sifatnya sebagai tempat bersembunyi / berlindung :
a. Perangkap menyerupai sisir (brush trap)
b. Perangkap bentuk pipa (eel tubes)
c. Perangkap cumi-cumi berbentuk pots (octoaupuspots)


2.        Berdasarkan sifatnya sebagai penghalang
a. Perangkap yang terdapat dinding / bendungan
b. Perangkap dengan pagar-pagar (fences)
c. Perangkap dengan jeruji (grating)
d. Ruangan yang dapat terlihat ketika ikan masuk (watched chambers)


3.        Berdasarkan sifatnya sebagai penutup mekanis bila tersentuh
a. Perangkap kotak (box trap)
b. Perangkap dengan lengkungan batang (bend rod trap)
c. Perangkap bertegangan (torsion trap)


4.        Berdasarkan dari bahan pembuatnya
a. Perangkap dari bahan alam (genuine tubular traps)
b. Perangkap dari alam (smooth tubular)
c. Perangkap kerangka berduri (throrrea line trap)


5.        Berdasarkan ukuran, tiga dimensi dan dilengkapi dengan penghalang
a. Perangkap bentuk jambangan bunga (pots)
b. Perangkap bentuk kerucut (conice)
c. Perangkap berangka besi


 C. Konstruksi Bubu yaitu :

      a. Badan (body): Berupa rongga, tempat dimana ikan-ikan terkurung. 
      b. Mulut (funnel): Berbentuk seperti corong, merupakan pintu dimana ikan dapat masuk tidak dapat keluar. 
      c.  Pintu: Bagian tempat pengambilan hasil tangkapan


D. Jenis - Jenis Bubu Berdasar Posisi Pemasangannya:


1.      Bubu Dasar (Ground Fish Pots).: Bubu yang daerah operasionalnya berada di dasar perairan.
2.     Bubu Apung (Floating Fish Pots): Bubu yang dalam operasional penangkapannya diapungkan.

3.     Bubu Hanyut (Drifting Fish Pots) : Bubu yang dalam operasional penangkapannya dihanyutkan. 


Sumber :




Jumani, Muhammad. http://www.mjumani.net/2012/11/lukah-alat-tangkap-ikan-tradisional.html#_

Unknown. 2016. Definsi, Pengoprasian, Konstruksi, Hasil Tangkapan Alat Tangkap Bubu di https://damnloveit.blogspot.com/2016/02/alat-tangkap-bubu.html

Jumat, 03 Mei 2019

Budidaya Sepat Mutiara



Sepat Mutiara memiliki warna yang indah. Sepat ini cocok dijadikan ikan hias akuarium dan akuascape.  Pemeliharan sepat mutiara tidak jauh berbeda dengan pemeliharaan ikan hias lainnya bahkan dapat dikatakan sangat mudah.

Sepat mutiara (Tichogaster leeri) berasal dari Sumatera, Kalimantan, Malaysia, dan Thailand dengan nama dagang Pearl Gouramy atau Mosaic Gouramy. Ikan ini bersifat omnivora hidup pada suhu optimal 26-28° C; pH 6,5-7,0;, Panjang tubuh ikan ini dapat mencapai 12 cm. Warnanya biru muda dengan violet terang. Seluruh tubuhnya dipenuhi totol-totol putih seperti mutiara dengan poly mosaik. Pada saat birahi, warna bagian perut jantan menjadi orange. salah satu jenis ikan sepat yang merupakan ikan hias air tawar anggotasuku gurami. Ikan dengan nama latin Trichogaster leeri ini selain disebut dengan Pearl gourami, ikan ini juga disebut dengan Mosaic gourami ataupun Lace gourami merujuk pada pola warna berbintik yang indah dengan garis hitam yang ada pada tubuhnya.

Klasifikasi ilmiah



Kingdom
:
 Animalia
Filum
:
Chordata
Kelas
Actinopterygii
Ordo
:
 Perciformes
Famili
Osphronemidae
Genus
Trichogaster
Spesies 
:
Trichogaster leeri

Ikan sepat mutiara ini memiliki tubuh pipih dan memiliki moncong yang runcing dan sempit. Ikan sepat mutiara ini memiliki panjang tubuh sekitar 120 mm. Tubuhnya berwarna kebiruan dengan pola bintik berwarna kehijauan atau keperakan seperti mutiara. Pada bagian tengah tubuhnya terdapat garis berwarna hitam yang ada mulai dari ujung mulut hingga pangkal ekornya.  Ikan sepat mutiara dapat ditemukan di rawa-rawa dataran rendah yang memiliki air sedikit asam. Penyebaran ikan ini terdapat mulai dari Indonesia (Sumatera dan Kalimantan), Thailand dan Malaysia. Karena keindahannya ikan sepat mutiara banyak dicari oleh pecinta ikan hias untuk dipelihara, dengan melihat peluang tersebut anda dapat melakukan budidaya ikan sepat ini. Berikut Cara Budidaya Ikan Sepat Mutiara:


A.      Pemilihan Indukan Sepat Mutiara


Pemilihan indukan sepat mutiara akan menentukan keberhasilan dalam budidaya ikan sepat ini. Induk sepet mutiara yang berkualitas akan menentukan hasil benihnya nanti yang tentunya akan menghasilkan benih berkualitas pula. Sebelum membudidayakan sepat mutiara kita harus dapat membedakan antara sepat mutiara jantan dan sepat mutiara betina. Sebenarnya membedakan ikan sepat jantan dan betina sangat mudah, berikut adalah perbedaan ikan sepat mutiara jantan dan ikan sepat mutiara betina:


Ikan Sepat Mutiara Jantan

Memiliki sirip punggung yang panjang dan lancip
Memiliki hiasan merah pada leher dan perut

Ikan Sepat Mutiara Betina

Memiliki sirip yang membulat dan pendek.
Tidak memiliki hiasan merah seperti jantan.

Ikan sepat mutiara yang baik ujntuk dijadkan indukan yaitu ikan yang telah berumur sekitar 7 bulan dan panjangnya telah mencapai sekitar 7,5 cm, ikan sepat tersebut sehat dan tidak cacat.

B.       Pemijahan Ikan Sepat Mutiara

Ikan sepat mutiara yang telah dipilih sebagai indukan kemudian dimasukkan dalam akuarium pemijahan. Biasanya setelah beradaptasi maka induk jantan akan membuat sarang berupa gelembung busa yang tidak terlalu tebal dengan luas sekitar 15-20 cm2 dan tidak mau didekati betina.

Setelah selesai membuat sarang barulah jantan mendekati betina dan akan mulai melakukan pemijahan dibawah gelembung busa yang dibuat jantan. Dalam pemijahan ini bisanya betina akan mengeluarkan telur sebanyak sekitar 1000 butir. Jika sudah mengeluarkan telur, maka betina diambil dan dipindahkan ke tempat lain sedangkan jantan dibiarkan bersama dengan telur.
Telur-telur ikan sepat mutiara tersebut akan menetas setelah berumur 2-3 hari, Larva ikan yang baru menetas tidak perlu diberi pakan hingga berumur sekitar 4 hari karena mereka masih memiliki cadangan makanan berupa kuning telur. Setelah itu, ikan sepat mutiara dapat di beri pakan berupa infusoria ataupun jentik nyamuk. Setelah burayak atau anakan ikan berumur sekitar 2 minggu barulah dipindahkan ketempat yang lebih luas.


C. Pembesaran Ikan Sepat Mutiara

Kolam pembesaran ikan sepat mutiara dapat berupa bak beton, bak fiber atau kolam plastik yang berukuran 2-4 m2 dengan ketinggian sekitar 40 cm. Kemudian bak tersebut diisi dengan air sumur atau ledeng dan diendapkan selama sehari semalam.

Sepat mutiara yakni hewan omnivora, pemakan seluruh. Di aquarium, pada masa larva ikan ini dapat diberi pakan kering layaknya pelet atau cacing tubifex kering. Sesekali, juga dapat diberikan pakan hidup layaknya udang renik.Ikan sepat mutiara diberi pakan berupa rotifera, cacing dan kutu air secara bertahap. Lakukan pula pergantian air secara rutin setiap seminggu sekali secara bertahap.
Labirin akan tumbuh dengan sempurna dan dapat berfungsi setelah 4 minggu. Maka jaga selalu suhu permukaan air dengan suhu air agar benih tidak stres.

Selama pemeliharaan tentunya diperlukan manajemen kualitas air sehingga ikan tetap sehat. untuk menjaga kualitas air dapat dilakukan penyiponan menggunakan selang. penyiponan bagian dasar kolam yang terlihat tumpukan kotoran atau sisa pakan yang tidak dimakan oleh ikan sepat.

Sumber :


Mas Ad. 2017. Panduan Lengkap Cara Budidaya Ikan Se[at Mutiara Mulai dari Pembenihan Hingga Pembesaran di https://www.faunadanflora.com/cara-budidaya-ikan-sepat-mutiara/

Rabu, 01 Mei 2019

MENGENAL IKAN JELAWAT




Ikan jelawat (Leptobarbus hoeveni. Blkr) merupakan ikan asli perairan Indonesia terutama terdapat di sungai, danau dan perairan umum lainnya di Kalimantan dan Sumatera. Permintaan pasar terhadap ikan ini cukup tinggi terutama di pasar tradisional. Ikan jelawat mempunyai nilai ekonomis tinggi dan sangat digemari oleh masyarakat dan dibeberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei, sehingga menjadi komoditas yang sangat potensial dan mendorong minat masyarakat untuk mengembangkannya. Ikan ini rasanya enak jika diolah masakan seperti pepes jelawat, jelawat asam manis, jelawat bakar dan masakan lainnya. Dengan adanya budidaya ikan jelawat melalui pembenihan yang intensif, sehingga produksi ikan jelawat tidak memlulu mengandalkan hasil tangkapan dari alam. Produksi penangkapan ikan jelawan yang lebih mengandalkan hasil penangkapan di perairan umum cenderung labil atau tidak kontinyu  dan sudah ada kecendrungan di beberapa tempat terjadi penurunan produksi.

Untuk menjaga berkembangnya komoditas ikan jelawat, maka dilakukan usaha pembenihan ikan jelawat di balai-balai perikanan. Ikan jelawat dapat di pelihara secara intensif baik di kolam, karamba dan karamba jaring apung.

Ikan Jelawat (Leptobarbus hoevenIi) adalah salah satu jenis ikan air tawar lokal yang digemari oleh masyarakat seperti di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat, dan bahkan di beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei (Puslitbang Perikanan, 1992). Ikan tersebut memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan menjadi target penangkapan yang potensial. Di Jambi selain sebagai ikan konsumsi benih ikan jelawat ditangkap sebagai komoditas ikan hias ekspor.

Taksonomi

Webert & Beauport (1981) di dalam Onadara dan Sunarno (1988) mengklasifikasikan ikan jelawat sebagai berikut:
Kingdom               : Animalia
Phylum                 : Chordata
Subphylum           : Vertebrata
Kelas                    : Pisces
Subkelas               : Teleotei
Ordo                     : Ostariophysi
Subordo               : Cyprinoidae
Famili                  : Cyprinidae
Subfamili             : Cyprinidae
Genus                  : Leptobarbus
Spesies                : Leptobarbus hoeveni Blkr

Sedangkan nama lokal di Jambi, Sumatera Selatan dan Lampung yaitu Lemak atau Klemak. Manjuhan di Kalimantan Tengah, Sultan di Malaysia dan Pla Ba di Thailand. Namun saat berukuran kecil antara 10-20 cm dinamakan Jelejar di Jambi, Sumatera Selatan dan Lampung. Nama dagang internasionalnya adalah hoven’s carp.

Biologi Ikan Jelawat

Ikan jelawat memiliki bentuk tubuh agak bulat dan memanjang, dan merupakan ciri bagi ikan yang termasuk perenang cepat. Kepala bagian sebelah atas agak mendatar, mulut berukuran sedang, garis literal tidak terputus, bagian punggung berwarna perak kehijauan dan bagian perut putih keperakan. Pada sirip dada dan perut terdapat warna merah, gurat sisi melengkung agak kebawah dan berakhir pada bagian ekor bawah yang berwarna kemerah‐merahan, serta mempunyai 2 pasang sungut. Panjang maksimum (SL) ikan ini dapat mencapai 100 cm dengan berat 10 kg.
Informasi mengenai reproduksi ikan jelawat matang gonad berukuran bobot tubuhnya antara 1,4 – 2,9 kg untuk ikan betina, dan 1 – 2,6 kg untuk ikan jantan, dengan fekunditas rata-ratanya adalah sebanyak 140.438 butir . Sedangkan pada perairan alami bobot ikan jelawat yang memijah di perairan Muara Tebo, Jambi berkisar antara 3,7 – 5 kg, dengan ukuran panjang 46 – 58 cm. Di Sungai Tembeling, Malaysia bobot rata-rata ikan jelawat yang memijah adalah 2,5 kg.

Habitat

Dijelaskan oleh Atmaja Hardjamulia (1992), ikan jelawat banyak ditemui di muara-muara sungai dan daerah genangan air kawasan tengah hingga hilir. Habitat yang disukainya adalah anak-anak sungai yang berlubuk dan berhutan di bagian pinggirnya. Untuk anakannya banyak dijumpai di daerah genangan, dari Daerah Aliran Sungai (DAS). Saat air menyusut, anakan ikan jelawat secara bergeromol beruaya ke arah bagian hulu dari sungai.
Di Indonesia ikan jelawat tersebar di perairan-perairan sungai dan daerah genangan atau rawa di Kalimantan dan Sumatera. Penyebarannya juga merata di kawasan Asia Tenggara seperti Vietnam, Thailand, Malaysia dan Kamboja.

Pakan dan Kebiasaan Makan

Secara umum ikan jelawat bersifat omnivora atau pemakan segala. Namun sebenarnya ia lebih cenderung herbivora. Vaas, Sachlan dan Wirraatmaja dalam Atmaja Hardjamulia (1992) menyebutkan, di dalam usus ditemukan biji-bijian, buah-buahan dan tumbuhan air. Sedang di dalam usus benih jelawat ditemukan berbagai jenis plankton, algae dan larva serangga air.
Dalam lingkungan pemeliharaan yang terkontrol, ikan jelawat juga menyantap makanan buatan berbentuk pellet. Bahkan mau memakan singkong, daun singkong dan usus ayam.
Dari bentuk mulut dapat diketahui ikan jelawat menyenangi makanan yang melayang. Cara makannya dengan menyambar meski terkadang gerakannya dalam mengambil makanan agak lambat. Namun demikian jenis ikan ini biasa pula mengambil makanan yang berada di dasar perairan (Anonim, 2007).


Tingkat Kematangan Gonad dan Reproduksi

Salah satu faktor penunjang keberhasilan pemijahan adalah tersedianya induk yang matang gonad. Induk tersebut dapat diperoleh dengan dua cara, cara pertama ialah dengan menangkapnya di alam pada saat musim pemijahan. Cara kedua adalah dengan memelihara di kolam secara terkontrol. Cara pertama biasanya faktor keberhasilannya rendah. Hal tersebut disebabkan oleh pengaruh stress dari ikan, apalagi ikan jelawat bersifat agresif sehingga pada waktu ditangkap dapat menimbulkan kerusakan fisik (Hardjamulia, 1992).
Indukan Jelawat

Beberapa persyaratan yang harus diperhatikan menyangkut kondisi induk ikan jelawat agar dapat dipijahkan dengan baik yaitu kematangan gonad dari ikan yang siap dipijahkan, biasanya mulai berumur 2,5 tahun, kondisi ikan sehat tanpa ada luka atau cacat. Biasanya induk ikan sudah siap dipijahkan setelah 3-6 bulan dalam kondisi pemeliharaan secara terkontrol dan intensif (Kristanto, 1994).

Wadah Budidaya

Untuk membudidayakan ikan jelawat dapat dilakukan pada media kolam, kolam yang digunakan dapat berupa kolam tanah atau kolam beton. Selain di kolam ikan jelawat dapat dibudidayakan di karamba atau jaring apung.

Pakan Jelawat

Jelawat yang dibudidayakan di kolam atau karamba dapat diberikan pakan tambahan berupa pakan pabrikan berupa pellet. pemberian pakan secara rutin sebanyak 5% perhari dengan prekuensi sebanyak 2-3 kali. Jika budidaya dilakukan di karamba/karamba jaring apung pemberian pakan dilakukan secara hati-hati agar pakan tidak hanyut dan terbuang. Pemberian pakan dilakukan sedikit-sedikit, setelah pakan habis dimakan baru ditabur kembali. Pakan yang terbuang tidak dimakan ikan akan menambah beban biaya produksi.

Sumber :