Jumat, 12 Oktober 2018

RAWAI IKAN


rawai dasar

PENDAHULUAN
Pancing rawai dasar merupakan salah satu jenis alat tangkap dasar yang cukup produktif. Disamping mudah dari sisi pengoperasiannya, alat tangkap ini juga relatif murah dari sisi pembiayaannya. Sebagai akibatnya, alat tangkap pancing rawai dasar cukup tersebar hampir di seluruh perairan Indonesia.
Pengguna terbesar pancing rawai dasar adalah nelayan yang mempunyai penghasilan menengah ke bawah, karena pancing rawai dasar memerlukan biaya yang relatif kecil sehingga terjangkau oleh nelayan kecil. Sebagian besar pengguna pancing rawai dasar adalah nelayan tradisional dan berpendidikan rendah.
Hasil tangkapan pancing rawai dasar, umumnya adalah ikan karnivora yang mempunyai daging lezat. Disamping itu, mutu ikan yang tertangkap dengan pancing juga mempunyai mutu yang lebih baik jika dibandingkan dengan alat tangkap lain.
Sehingga ikan-ikan hasil tangkapan pancing rawai dasar mempunyai harga yang relatif mahal dibandingkan dengan jenis hasil tangkapan lainnya. Hasil tangkapan pancing rawai dasar selain dijual ke restoran-restoran sea food, juga diperuntukkan untuk komoditas ekspor.

DESKRIPSI SINGKAT
Pancing rawai dasar atau dalam bahasa asingnya adalah long line, adalah alat tangkap yang terdiri dari rangkaian tali-temali yang disambung-sambung sehingga merupakan tali yang panjang dengan beratus-ratus tali cabang. Ayodhyoa (1981) menyatakan bahwa alat tangkap rawai dasar terdiri dari tali utama (main line), tali cabang (branch line), tali pelampung, bendera, pelampung tali pancing, pancing dan tali-temali lainnya. Prinsip kerja dari pancing rawai dasar adalah memikat ikan untuk memakan umpan pada mata pancing yang merupakan perangkap bagi target tangkapan.
Penggunaan  teknologi  untuk  mengoperasikan  pancing  rawai  dasar  relatif masih sederhana. Pengembangan teknologi dapat diterapkan dalam proses pemasangan pancing atau penggulungan pancing. Mengingat pancing ulur menggunakan tali pancing yang panjang, maka dalam proses pemasangannya (setting) sering terjadi kecelakaan ketika tali pancing utama kusut. Demikian juga dalam proses penarikannya, tidak jarang karena ikan terjerat di tali pancing, tali pancing juga kusut. Untuk mengatasinya, biasanya digunakan line hauler.

KLASIFIKASI RAWAI (LONG LINE)


Rawai (long line) terdiri dari rangkaian tali utama dan tali pelampung, dimana pada tali utama pada jarak tertentu terdapat beberapa tali cabang yang pendek dan berdiameter lebih kecil dan di ujung tali cabang ini diikatkan pancing yang berumpan.
Rawai dapat diklasifikasikan berdasarkan letak pemasangan pada saat pengoperasian, berdasarkan susunan mata pancing dan berdasarkan ikan sebagai tujuan hasil tangkapan. Adapun klasifikasinya sebagai berikut:
1.    Berdasarkan letak pemasangan pada saat pengoperasian  yaitu: (a)Rawai permukaan (surface long line); (b) Rawai pertenggahan (sub surface long line); (c) Rawai dasar (bottom long line)
2.    Berdasarkan susunan mata pancing pada tali utama yaitu : (a) Rawai tegak (vertikal long line); dan (b) Rawai mendatar (horizontal long line) 
3.    Berdasarkan jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan yaitu  : (a) Rawai tuna (tuna long line); (b) Rawai albakora (albacore  long line); (c) Rawai kakap dan lain sebagainya.

SUMBER:
https://id.wikipedia.org/wiki/Rawai

Rabu, 10 Oktober 2018

Penanganan Penyakit Pada Ikan Nila



Cetak Kolam Mina Padi



Pembukuan Kelompok



Budidaya Ikan Nila Sestem Mina Padi


Budidaya Lele Di Kolam Terpal


Lokasi budidayaya


kolam terpal merupakan salah satu solusi untuk pengembangan budidaya ikan di lahan kritis dan sempit.  Manfaat lahan sempit atau kritis untuk pembangunan kolam terpal perlu beberapa pertimbangan, antara lain : 

1.    Pertimbangan teknis meliputi :
a)    Ada sumber air untuk mengisi kolam terpal ; air sumur, air PAM, air hujan yang ditampung, dan lain-lain yang layak digunakan.
b)   Ketinggian lokasi; 0-700 m dpl (diatas permukaan laut)
c)    Ukuran ikan lele yang hendak dipelihara perlu diperhatikan karena terkait dengan kedalaman air di dalam kolam, misalnya benih lele cocok dipelihara pada kedalaman air 30-40 cm.
d)    Dasar tanah untuk peletakan kolam terpal harus rata
e)    penanganan limbah air kolam.

2.    Pertimbangan sosial-ekonomi Budidaya, meliputi :
a)    Lokasi bukanlah lokasi sengketa.
b)   Dekat dengan daerah pengembangan budidaya ikan lele sehingga memudahkan memperoleh induk atau benih
c)    Tersedia sarana dan prasaran trasportasi yang memadai untuk memudahkan pengadaan alat, bahan, trasportasi benih, hasil panen dan lain-lain
d)    Adanya alat dan bahan disekitar lokasi  atau pengadaanya mudah
e)    Pasar cukup terbuka untuk menampung produksi, baik baik pasar lokal maupun pasar ekspor, serta harga yang cukup memadai
f)     Lokasi cukup aman dari berbagai gangguan, baik hewan-hewan liar maupun gangguan manusia (pencurian)
g)    Adanya sumber energi listrik untuk penerangan dan kebutuhan lainya
h)    Adanya dukungan dari pihak-pihak terkait, misalnya permodalan dan lain-lain.


Jenis Kolam Terpal Sesuai Peletakanannya
1.    Kolam terpal atas permukaan tanah

 
Kolam terpal diatas permukaan tanah

2.    Kolam terpal bawah permukaan tanah

Konstruksi Kolam di atas permukaan tanah
Ukuran kolam disesuaikan denagan luas lahan yang tersedia. Umumnya, kolam yang dibuat disesuaikan dengan ukuran terpal, misalnya ukuran kolam 2 x 3 x 1 m, 4 x 5 x 1 m, 6 x 4 x 1 m, atau 4 x 8 x 1 m. kerangka bisa dibuat dari bambu, kayu, pipa besi atau papan.

Kelebihan Penggunaan Kolam Terpal

Pembuatan kolam terpal dapat dilakukan di pekarangan atau pun di halaman rumah. Lahan yang digunakan berupa lahan yang belum dimanfaatkan atau lahan yang telah dimanfaatkan, tetapi kurang produktif. Keuntungan lain dari kolam terpal adalah:

1. Terhindar dari pemangsaan hama seperti ikan liar dan ular sawah.
2. Dilengkapi pengatur volume air yang bermanfaat untuk memudahkan pergantian air maupun panen dan dapat mempermudah penyesuaian ketinggian air sesuai dengan usia ikan.
3. Dapat dijadikan peluang usaha skala kecil dan besar,
4. Lele yang dihasilkan lebih berkualitas, lele terlihat tampak bersih, dan seragam.
5. Lahan yang digunakan tidak berubah karena bukan kolam galian atau kolam semen.


Persiapan Budidaya
1.    Persiapan kolam plastik
Pembuatan kerangka sesuai ukuran yang dikehendaki, pemasangan terpal. Sebelum terpal dipasang, terlebih dahulu dicuci untuk menghilangkan sisa zat kimia yang ada pada terpal.
2.    Pengisian air kolam
Kolam terpal diisi air setinggi 15-30 cm, dimasukan pupuk kandang utuk menumbuhkan plankton dan didiamkan selama 1 minggu sampai air berwarna kehijauan.
3.    Setelah air kolam berwarna kehijauan, benih lele ukuran     5-6 cm siap dimasukkan.
Pemeliharaan
a.    Perawatan kualitas air
-     Untuk menjaga kualitas air sebaikanya dimasukkan probiotik setiap 15 hari
-     Bila terlalu banyak sisa kotoran yang menumpuk, kolam perlu dibersihkan dengan cara menyipon
b.    Pemberian Pakan
-       Pemberiakan pakan dilakukan 3 kali sehari pada jam 7 pagi, jam 5 sore, dan 10 malam.

Penyebab kematian ikan
1.    Amoniak
Sisa-sisa pakan yang tidak termakan ikan juga dapat menyebabkan menumpuknya racun amoniak dan membuat kadar keasamannya meningkat. Akibat dari zat asam ini lele menjadi buas dan tumbuh suburnya penyakit-penyakit. Ciri-ciri air mengandung zat asam yaitu mayoritas ikan mengambang dengan posisi berdiri. Solusinya adalah hindari penggunaan pakan yang berlebihan dan air diberi daun-daunan agar berwarna hijau
2.    Kedalaman air
Kolam yang terlalu dangkal akibat penguapan akan membuat ikan menjadi kepanasan. Tentunya hal ini akan membuat ikan menjadi kelelahan dan mati. Solusinya adalah dengan menambah air yang telah surut kembali ke posisi yang telah ditentukan sebelumnya. Selain itu perlu ditambahkan tanaman air seperti kangkung air, daun keladi/ talas, dan eceng gondok. Fungsi tanaman air selain sebagai peneduh dapat pula menyerap racun-racun yang terkandung dalam air kolam.
3.    Pengangkutan bibit yang tidak baik
Pengemasan di wadah bibit yang kurang nyaman membuat bibit mengalami stres yang diakibatkan oleh banyaknya guncangan saat pengangkutan, terlalu lama di dalam plastik, dan cuaca panas. Solusinya adalah membeli bibit dari tempat yang tidak terlalu jauh dari kolam dan tidak terkena sinar matahari.

4.    Klimatisasi
Bibit ikan akan mati apabila tidak dilakukan penyesuaian suhu antara air yang ada di plastik pembungkus dengan air kolam. Sebelum dimasukkan ke dalam kolam, bibit ikan harus dikenalkan terlebih dahulu dengan air kolam. Caranya, plastik yang berisi bibit ikan direndam di air kolam selama   ½ – 2 jam. Kemudian plastik dibuka dan biarkan air kolam masuk perlahan-lahan ke dalam plastik sampai bibit ikan keluar dari plastik dengan sendirinya. Setelah itu, ikan baru bisa sepenuhnya masuk ke kolam. Lakukan hal ini pada pagi atau sore hari untuk menghindari suhu air yang lebih panas.
5.    Tingkat Kejernihan Air
Pada dasarnya ikan lele tidak menyukai air jernih. Hal ini dapat dilihat dari sifat dan bentuk tubuhnya. Sifat ikan lele mencari makan pada malam hari menyebabkan ikan lele tidak membutuhkan penglihatan yang baik. Ini didukung pula dari bentuk tubuhnya yang memiliki kumis di sekitar mulutnya. Fungsi kumis ini berguna untuk meraba makanan. Selain itu, sistem pernapasan ikan lele menggunakan labirin yang artinya pernapasan ikan lele tidak bergantung pada oksigen yang terlarut di air. Jadi, pada kondisi minim oksigen pun ikan lele tetap dapat bertahan hidup misalnya air berlumpur. Air yang jernih dapat mematikan bibit ikan lele. Meskipun ikan lele tidak menyukai air jernih, kita tidak bisa memasukan sembarang air ke kolam. Bisa saja air yang kita masukan mengandung bakteri dan parasit yang dapat menimbulkan penyakit. Kiranya perlu kita memperkeruh air kolam yaitu dengan cara memberikan daun-daunan seperti yang telah disebutkan di atas agar air berwarna hijau.
6.    Hama dan Penyakit
Hama dan penyakit juga tidak bisa dianggap remeh karena kedua hal ini sangat mempengaruhi volume produksi. Hama biasanya berupa hewan yaitu linsang, burung pemakan ikan, kucing, dll. Sedangkan untuk penyakit berupa virus dan bakteri. Pencegahannya yaitu menggunakan semacam penghalang agar tidak ada hewan liar yang masuk ke kolam dan memakan bibit lele. Untuk penyakit dapat diberikan obat-obatan yang banyak tersedia di toko pertanian.



Panen

Panen Lele di Kolam Terpal


Setelah cukup umur maka ikan akan di panen. Panen dilakukan dengan disortir yaitu dengan memilih ikan yang sudah layak untuk dikonsumsi (dijual) biasanya ukuran 5 sampai 10 ekor per kg atau sesuai dengan keinginan pembeli, kemudian ukuran yang lebih kecil dipelihara kembali.








Referensi:
Cara ternak lele sangkuriang di kolam terpal,Florencia Areto
AgroMedia. 2007. Berternak Lele Dumbo. PT. Agromedia Pustaka. Jakarta. 52 hal.

Rabu, 03 Oktober 2018

Budidaya Papuyu




Ikan Papuyu (ikan betok) merupakan ikan lokal air tawar yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan digemari oleh masyarakat Kalimantan terutama masyarakat

Kalimantan Selatan, tetapi belum banyak dibudidayakan. Untuk itu diperlukan usaha pembenihan guna kontinuitas suplai benih yang memenuhi syarat kualitas dan kuantitasnva.
Usaha pembenihan bertujuan untuk menghasilkan benih dalam jumlah besar, sehingga tidak tergantung pada ketersediaan di alam yang pada akhirnya dapat menunjang kegiatan usaha pembesaran dan diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani ikan sekaligusdapat menunjang peningkatan produksi budidayanya. Juga turut serta dalam upaya pelestarian plasma nuftah pada umumnya dan khususnya ikan Papuyu.

Biologi Ikan Papuyu

Phylum : Chordata
Sub Phylum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Sub Kelas : Teleostei
Ordo : Labytinthichi
Famili : Anabantidae
Genus : Anabas
Species : Anabas testudineus Bloch

Nama Daerah : Betik/Betok  Jawa dan Sunda, Papuyu (Banjarmasin), Puyu (Malaya) dan Kalimantan Timur, Geteh-geteh (Manado).
Nama Umum : Walking Fish atau Climbing Perch.
Pembenihan Ikan Papuyu
Tahapan kegiatan pembenihan ikan Papuyu meliputi seleksi induk. pemijahan. penetasan telur dan pemeliharan larva.
1. Seleksi Induk
a. Ciri-ciri induk jantan dan betina
Betina :
  • Tubuh gemuk dan lebar kesamping,
  • Warna badan agak gelap,
  • Sirip punggung lebih pendek,
  • Bagian bawah perut agak melengkung,
  • Jika matang gonad pada bagian perut diurut akan keluar telur,
  • Alat kelamin berwarna kemerah-merahan.
Jantan :
  • Tubuh ramping dan panjang,
  • Warna badan agak cerah,
  • Sirip punggung lebih panjang,
  • Bagian bawah perut rata,
  • Jika perut diurut akan keluar cairan sperma berwarna putih susu.
b. Beberapa persyaratan induk
  • Ukuran induk betina yang ideal diatas 90 gram dan jantan diatas 30 gram,
  • Badan terlihat segar (tidak cacat) dan gerakannva lincah,
  • Mampu menghasilkan telur dalam jumlah cukup banyak,
  • Umur induk lebih dari 10 bulan,
  • Pertumbuhannya cepat.
2. Pemijahan
a. Bahan dan alat
  • Induk ikan papuyu yang matang gonad
  • Ovaprim
  • Aquabidest
  • Akuarium ukuran 60 x 40 x 45 cm
  • Alat suntik
  • Alat aerasi (Hi-Blow/Aerator)
  • Baskom, serok senter dan timbangan
b. Perlakuan
Ikan Papuyu memijah sepanjang musim penghujan, pada saat musimnya mampu memijah 2 – 3 kali dengan jumlah telur (fekunditas) 5.000 – 15.000 butir. Pemijahan dilakukan dengan induced breeding (kawin suntik) menggunakan hormon ovaprim, dosis penyuntikan 0,5 cc/kg induk. Perbandingan 1: 1 (dalam berat). Pemijahan dapat dilakukan di akuarium atau fibre glass. Penyuntikan secara intramuscular pada otot punggung induk. Induk betina 2 kali penyuntikan dan induk jantan 1 kali penyuntikan. Interval waktu penyuntikan I ke penyuntikan II adalah 6 jam. Penyuntikan induk jantan bersamaan pada saat penyuntikan II induk betina. Proses terjadinya ovulasi tanpa dilakukan stripping (pemijahan secara alami).
3. Penetasan Telur
Setelah penyuntikan II induk betina, maka ovulasi akan terjadi 5 jam berikutnya. Telur akan menetas dalam waktu 20 – 24 jam pada suhu 260C atau akan menetas dalam waktu 12 jam pada suhu 300C. Prosentase dari telur yang dibuahi sekitar 95% dengan daya tetas (HR) 95%. Penetasan telur bisa langsung di akuarium atau langsung ke tempat Pendederan I jika sudah siap.
4. Pemeliharaan Larva
Larva yang baru menetas tidak perlu diberi makanan tambahan sebab masih mempunyal cadangan makanan dari kantong kuning telur (yolk egg).Setelah larva berumur 4 hari diberi makanan tambahan berupa suspense kuning telur. Frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari (pagi, siang dan sore) selama 10 hari. Setelah itu bisa diberikan makanan pellet yang dihaluskan. Masa kritis larva terjadi pada saat hari ke-7 sampai hari ke-14. Pendederan larva dilakukan di kolam semi permanen, dimana kolam tersebut terlebih dahulu dilakukan pengolahan lahan dengan diberi dosis pupuk dan kapur sesuai anjuran.
Pemeliharaan ini selama 45 hari dengan padat tebar 50 ekor/m . Selama masa pemeliharaan 45 hari benih ikan diberi pakan tambahan berupa pellet yang dihancurkan sebanyak 10 – 20% per hari dengan frekuensi pemberian 2 kali/hari. Umur 45 hari sudah mencapai benih ukuran 1 – 3 cm, dan benih bisa dipanen untuk di tebar ke kolam pendederan berikutnya.



Referensi:
Budidaya Ikan Betok. Blog.com